Monday, November 24, 2014

Curhat Saja...


2 comments:
Kebijakan Tifatul memblokir konten-konten yang mengandung pornografi, sebelum diputuskan untuk dilanjutkan, harus dievaluasi. Misalnya, apakah pemblokiran ini berdampak positif terhadap sesuatu atau tidak. Apakah dampak yang dihasil sebanding dengan uang yang dikeluarkan, dsb.

Kalau tidak banyak gunanya, sebaiknya dana untuk melakukan pemblokiran dipakai untuk aksi positif saja (pemblokiran adalah aksi negatif). Logika yang dipakai seperti pada pengurangan subsidi BBM.

Sudah cukuplah, mentri-mentri yang menganggap bego rakyat. Parahnya lagi, rakyat Indonesia dibandingkan dengan Amerika Serikat. Padahal di AS pun banyak juga bigotnya, yang kadar ke-bego-annya kadang sampai bikin saya ingin menembak diri saya sendiri, saking parahnya.

Sekarang harusnya jaman mentri yang tau rakyat punya potensi dan bantu agar potensi itu bisa berguna untuk negara.

Tapi ya itulah. Harus dilakukan riset terlebih dulu. Riset sangat penting untuk mengetahui apakah suatu kebijakan sudah tepat, atau untuk melihat kebijakan apa yang kira-kira diperlukan.

Saya cukup optimis dengan urusan kemajuan riset di Indonesia. Karena di kabinet Jokowi ada mentri yang khusus menangani masalah pendidikan tinggi riset. 

Kembali lagi ke mentri Rudiantara, menurut saya mentri ini harus "direvolusimentalkan"!

Saya Ini (Mungkin) Tidak Racist, Semoga Tidak Sexist, Tapi Ternyata Jilbabist!


2 comments:
Suatu ketika saya dan adik saya pulang dari kampus. Seperti biasa, kami selalu mengobrol tentang hal-hal biasa, kejadian sehari-hari. Kali ini, yang topiknya tentang perilaku penumpang Transjakarta yang ajaib bin menyebalkan.

Obrolan bermula ketika ada seorang nenek yang masuk, dengan susah payah, ke dalam bus. Kami yang ada di area dekat pintu berusaha memberi jalan masuk untuk nenek tersebut, agar mudah mengakses kursi. Ketika akhirnya nenek ada di dekat kursi, orang yang duduk di kursi tidak segera berdiri memberikan kursinya (kata memberikan di sini kurang tepat mengingat kursi itu bukan miliknya) ke nenek tersebut. Orang yang ada di dekatnya menegur. Akhirnya berdirilah dia dan nenek duduk.

Fenomena ini, walau akhir nenek bisa duduk di kursi, tetap terasa menyebalkan. Karena orang yang duduk di kursi, si anak muda, tidak segera berdiri. Akhirnya, mulailah saya dan adik saya mengobrol tentang hal serupa, yang cukup sering terjadi itu.

Adik saya mengatakan, sering ada anak muda yang duduk di kursi merah, ketika tahu banyak orang yang masuk ke bus, langsung pasang posisi seperti sedang tidur. Padahal dia tidak tidur. Dugaan kami, dia tidak mau disuruh berdiri dan membiarkan orang yang butuh kursi untuk duduk.

Tidak lama setelah obrolan dimulai, adik saya nyeletuk,

"Seringnya sih yang begitu malahan yang pakai jilbab jilbab gitu. Heran deh"

Ketika itu saya mengiyakan. Ya, karena sepanjang yang saya lihat pun, pelaku fenomena menyebalkan itu memang berjilbab.

Tapi setelah itu, saya pikir lagi. Pikiran ini muncul setelah ingat pembicaraan saya dengan Ayu, temanku, mengenai sexist. Pikirku, kenapa saya lebih kesal melihat tingkah menyebalkan seperti ini ketika pelakunya adalah seorang perempuan berjilbab?

Kemudian saya menyadari, seperti orang kebanyakan, ternyata saya secara tidak sadar berekspektasi: ketika seseorang memutuskan berjilbab, maka dia harus berperilaku santun dan lebih "lurus". Saya sendiri kaget, wow, betapa konvensional saya.

Jadi, ketika ada seorang perempuan berjilbab berperilaku menyebalkan dan berpikir dia seharusnya tidak seperti itu terutama karena dia berjilbab, maka saya ini adalah seorang Jilbabist. Bukan dalam arti pengguna jilbab, tapi -ist di sini seperti -ist di racist, sexist. Dalam pikir saya, seorang berjilbab pastilah begini begitu, tidak boleh begini begitu. Saya lupa, bahwa seorang yang berjilbab itu, manusia. Sama seperti manusia yang tidak berjilbab, tidak sempurna dan wajar jika melakukan kesalahan dan menjadi menyebalkan.

Saturday, February 22, 2014

A Note On Good and Evil


No comments:
It has been a very long time since my obsession on the good and the evil came. The question is what is good, what is evil. Many thinkers have debated about the answer. Many kind of thinkers. The religious, the irreligious. But nothing satisfy me. I don't know, maybe it is just me who lack of reading the books.

Lately, I realize that the question should not be about what. It should be about its existence first. Does good and evil exist? Turns out there are at least 2 group of answer. The first says good and evil does exist. The second says no, they don't exist. The first answer will let me continue my searching about what is good, what is evil. But the second one will drag me into another question, to find the other base of our practical reason.

This should make me going forward, but no, I am going backward instead.